Lebaran selalu identik dengan toples penuh kue kering, tapi sayangnya beberapa kue tradisional khas Lebaran kini mulai langka dan jarang terlihat di meja tamu. Artikel ini akan mengajak kamu bernostalgia sambil mengenang cita rasa khas yang mungkin sudah jarang ditemukan. Yuk, ingat kembali kue-kue yang mulai langka!
Baca Juga: Khas Banget! Ini 4 Kue Kering Lebaran dari Sulawesi Selatan
Kue Tradisional Khas Lebaran yang Mulai Langka
1. Kue Clorot
Salah satu jajanan unik bercita rasa manis ini merupakan makanan khas dari Bali. Memiliki warna adonan yang coklat, cerorot ini terbuat dari larutan perpaduan santan, gula aren, dan daun pandan yang telah dimasak hingga larut serta dingin.
Larutan air gula tersebut kemudian dituangkan ke dalam pembuatan adonan tepung beras dan tepung kanji, aduk sampai rata. Barulah, tuangkan adonan ke dalam daun kelapa berbentuk terompet.
2. Kue Sagon
Kue kering dari olahan tepung beras ketan yang diberikan dengan campuran kelapa.
Sagon termasuk jenis makanan ringan yang lezat dan aman dikonsumsi.
Menawarkan cita rasa yang manis, gurih dan renyah sewaktu digigit, makanan ini amat mudah dijumpai, terutama saat lebaran.
3. Kue Koya
Kue koya adalah makanan zaman dulu yang dibuat dari tepung ketan dan kacang. Konon proses pembuatannya relatif sederhana, bisa dilakukan tanpa bantuan oven. Hanya memanfaatkan sinar matahari saja untuk mengeringkannya, sebelum dihidangkan.
4. Kue Keukarah
Keukarah atau karah adalah kue yang terbuat dari campuran tepung dan santan berbentuk lembing, berukuran satu telapak tangan orang dewasa.
Kue ini adalah salah satu jajanan khas Aceh yang mirip dengan serabut atau sarang burung. Rasanya sangat renyah, manis, garing, dan rapuh. Karena bentuknya yang unik, kue ini sering dijadikan oleh-oleh.
5. Kue Sapik
Kue sapik adalah salah satu jajanan khas Sumatera Barat. Bentuknya mirip kue semprong tetapi tidak di gulung.
Saat diangkat dari cetakan pemanggang, kue ini dilipat dan dijepit sehingga dinamakan kue sapik (kue jepit).
6. Kue Caketra
Kue caketra adalah kue aci kuliner khas Tasikmalaya yang terbuat dari bahan dasar utama tepung tapioka, gula, mentega, dan juga telur yang dicampur menjadi adonan dengan tekstur yang lumer di mulut.